Berita

SPANDUK PPDB

Kontak

Alamat :

Iteng, Desa Iteng, Kec. Satar Mese, Kab. Manggarai

Telepon :

082217845687 - 081239431799

Email :

smast.mariaiteng.@yahoo.co.id

Website :

stmariaiteng.sch.id

Media Sosial :

Kalender

Juli 2024

Mg Sn Sl Rb Km Jm Sb
1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31

CERITA RAKYAT

Cerita Rakyat

ASAL-USUL KAMPUNG WAEREBO

(Oleh: Margareta Felisitas Sena Serang, Siswi Kelas XII SMA Iteng)

Konon, di Tanah Minangkabau yang subur, hiduplah seorang pemuda tampan, pintar, dan karismatik bernama Maro. Maro yang saat itu sedang mencari jati diri, mempunyai sebuah hobi yang cukup keren di masanya, yaitu melakukan taruhan adu kerbau. Sebuah hobi yang katanya kalau kalah berarti dosa, namun kalau menang, ya syukur

Di pertarungan terakhirnya, diceritakan bahwa kerbau milik Maro memenangkan pertandingan dengan menang KO setelah membuat kerbau milik lawannya tersungkur mencium tanah. Lawan yang kalah ternyata tak terima; dia menuduh Maro bermain curang, dan setelah mendapat dukungan dari orang-orang sekampung, dia mengancam akan membunuh Maro.

            Maro yang terdesak kemudian l memutuskan untuk merantau. Dalam perjalanannya ke arah timur. Maro sempat singgah di Gowa- Sulawesi,  sebelum berpindah lagi kearah selatan, menuju sebuah pulau bernama Flores. Di Flores Maro singgah di Labuan Bajo, kemudian Wara Loka. Dan kemudian berlayar ke selatan berdiam ke suatu daerah bernama Nangapaang.

             Hingga pada suatu hari Maro melihat dari arah gunung asap yang ternyata berasal dari kampung Todo. Maro langsung memutuskan untuk ke sana karena beranggapan pasti ada sekelompok manusia yang tinggal di sana. Maro langsung di terima dengan baik di kampung Todo. Dan pada hari ke tiga diadakan pemilihan ketua suku, yang mengejutkannya Maro terpilih menjadi ketua suku. Maro yang merasa belum pantas pun menolak jabatan tersebut, sehingga akhirnya diangkatlah seorang lain yang lebih muda. Singkat cerita Maro akhirnya pindah dari kampung Todo ke kampung Poppo. Di Poppo, Maro tinggal cukup lama, hingga suatu hari, timbul pertengkaran dengan kampung tetangga, Perselisihan yang mendatangkan kabar bahwa  Poppo akan diserang tengah malam karena Maro menimbulkan kejadian. Saat itu, warga Poppo malah melindungi Maro, yang notabene adalah seorang pendatang. Tetapi  tidak membuat kampung tetangga menjadi gentar, malah semakin marah pada Maro.

             Pada suatu malam, sekor luwak datang ke kamar Maro di Poppo, dan hinggap di atas rumahnya. Maro yang merasa bahwa luwak tersebut bukanlah luwak sembarang mencoba berkomunikasi dengannya. Hai luwak, kalau kau bukan luwak biasa, maka bersuaralah.”Tiba-tiba si luwak mengeluarkan suaranya, yang membuat Maro berpikir bahwa jangan-jangan luwak ini datang untuk membawakan kabar baginya. Maro kemudian mencoba bertanya lagi dengan luwak

Hai luwak, kalau kau membawa kabar baik di suhu dingin, turunlah dari sana, dan tunjukkan padaku.”

Ajaib, tiba-tiba si luwak turun dari tempatnya, dan dengan suaranya, dia mengajak Maro untuk segera kabur dari Poppo. Kini Maro percaya, bahwa luwak itu hadir untuknya, dengan misi untuk mengajaknya pindah ke tempat yang lebih baik. Dan benar saja, baru beberapa langkah Maro pergi meninggalkan Poppo bersama luwak, kampung tersebut habis terbakar api, oleh seteru Maro. Selanjutnya, luwak menuntun Maro untuk pergi ke Kampung Modo dan menetap di sana. Namun ternyata, di sana Maro berulah lagi. Diceritakan kepada saya, bahwa di sana, Maromdengan segenap kepintaran dan karismanya, ingin menguasai penduduk Modo. Beruntungnya, Maro sempat menjalin persahabatan dengan seorang pria bernama Bimbang. Bimbang, adalah warga Modo yang mempercayai Maro dengan sepenuh hati. Pada hari di mana penduduk kampung ingin membunuh Maro, Bimbang mengajak Maro, untuk mengaburkan keduanya, ke arah gunung. Setibanya di gunung, mereka menemukan sebuah persimpangan jalan. Dan sesuai dengan namanya, hingga akhirnya memutuskan, Bimbang berbelok ke kiri, sementara Maro berbelok ke arah kanan

Jalur yang dipilih Maro, ternyata membawa ke Kampung Ndara, di mana dia menjumpai dua keluarga di sana. Namun,  di sana Maro berulah lagi dengan niatan menguasai kedua keluarga itu. Akhirnya, kedua keluarga itu jengah dan justru memilih pergi dari kampungnya, meninggalkan Maro sendirian di sana.Singkat cerita lagi, Maro menjadi kesepian karena ditinggal sendiri..

Kemudian, Maro pun memutuskan untuk berangkat lagi menuju sebuah tempat bernama Golo Damu. Di sana, Maro berhasil mendapatkan hasil tanam yang bagus untuk mencukupi kehidupan sehari-harinya, termasuk mendapatkan seorang istri yang berasal dari Lembor( Manggarai Barat).Hidup berumah tangga, bukan berarti tanpa masalah. Di Golo Damu, Maro justru mendapat kutukan yang teramat berat. Bahwa siapa pun keluarga istrinya yang tinggal di rumah mereka di Golo Damu, akan meninggal! Sebuah kutukan yang mungkin datang karena karma yang dibuatnya di masa lalu. Tak betah dengan kutukan tersebut, Maro dan istrinya memutuskan untuk pindah lagi, ke sebuah daerah yang disebut Golo Pandu. Hingga pada suatu malam penuh bintang, Maro mendapatkan sebuah mimpi yang akan mengubah hidup Maro selamanya.

Dalam mimpinya, seorang pria yang sepertinya merupakan utusan kerajaan, datang mendekat untuk menyampaikan sebuah pesan, “Maro, tempat ini tidak cukup besar untukmu.  Pergilah kamu untuk melihat ke bawah, di sana masih ada tanah yang datar untuk menetap, dan suatu saat  di sana, kamu akan berkembang. Maro yang merasa kejadian tersebut sangat nyata, memutuskan untuk menerima dan mematuhi pesan-pesan yang disampaikan melalui mimpi.Maro pun akhirnya memutuskan untuk beralih ke lembah hijau yang berada di dasar laut. Di sana, Maro beserta istrinya, bergumul dan berkembang biak dengan baik, ditemani tanaman-tanaman yang tumbuh subur, ternak yang sehat, dan air yang selalu jernih. Di sebuah kampung nan cantik jelita, yang kini dikenal orang sebagai Wae Rebo, kampung di atas awan. Sebuah kampung penuh senyum dan keceriaan, yang mengundang decak kagum siapa pun yang berkunjung. Waerebo merupakan salah satu destinasi wisata budaya yang berada di Kampung Satar Lenda, Kecamatan Satar Mese, Kabupaten Manggarai Barat, Flores, Nusa Tenggara Timur. Rute perjalanan jika ingin ke Waerebo yakni dari  Labuan Bajo–Ruteng–Denge dengan durasi perjalanan sekitar 5–11 jam tergantung pada jenis transportasi dan rute yang dipilih.